Orang bilang Minang itu pelit..
Tapi saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah orang yang Pelit.
Pelit? Tidak.
Perhitungan? Iyes.
Perhitungan dalam konteks ini adalah menimbang-nimbang opsi terbaik dalam melalukan suatu pengeluaran sumber daya, saya akan memilih opsi lain yang lebih ekonomis namun optimal dalam pemanfaatannya.
Sumber daya yang dimaksud tidak hanya uang, tetapi juga waktu dan tenaga.
Sebagai contoh, jaman mahasiswa dulu, saat masih tinggal di kosan, saya akan menggabungkan aktifitas: solat ke masjid; menaruh/mengambil cucian di laundry; dan makan malam, dalam satu trip.
Sehingga, waktu dan jarak yang saya tempuh akan lebih sedikit.
Irit waktu, irit bensin, irit tenaga.
Sepatu Baru
Saya baru saja membeli sepatu baru! Sepatu Kerja.
Percaya atau tidak, sudah hampir 6 tahun saya tidak membeli sepatu kerja..
Sepatu yang lama ini, terakhir saya beli tahun 2012.
Harganya sekitar 300 ribu saja saat itu.
Saya pakai setiap hari kerja.
Bukannya tidak ada uang untuk beli yang baru..
Tapi menurut saya, kalau masih bagus dan berfungsi sebagaimana mestinya, buat apa diganti?
Saya punya sepatu lain yang dibeli dalam rangka pernikahan adik saya.
Harganya jauh lebih mahal. Tapi biasanya hanya saya pakai kalau datang ke acara resepsi nikahan.
Sang Sepatu, akhirnya rusak.
Setelah melewati ribuan, ratusan ribuan (atau mungkin jutaan?) langkah.
Menapaki berbagai medan permukaan bumi..
Basah..becek..lumpur..kering..kerikil..pasir..hingga tanah perkuburan dan keramik marmer.
Sang sepatu terbelah dibagian bawah. Sehingga saat menginjak genangan, air merembes masuk hingga kaos kaki. Tentu tidak nyaman sekali.
Akhirnya saya memutuskan hunting sepatu.
Istri saya, tahu sepatu saya rusak, kekeuh untuk membelikan sepatu kekinian, yang dijual di instagram. Dia marah kalau saya menolak. Katanya dia ingin melihat suaminya tampil necis.
Soalnya kalau pergi berdua, biasanya hanya pakai celana belel, kaos dan sandal gunung. Mentok-mentok paling keren cuma pakai Wakkai.
Sedari dulu, sudah penasaran sama sebuah toko sepatu hand made, produk asli kota Depok.
Kata kawan saya, barangnya bagus-bagus..dan harganya relatif murah..
Toko Sepatu New Hunteria, berlokasi di bawah jembatan layang jalan Arif Rahman Hakim Depok.
Tahun lalu saya sudah pernah dua kali kesana, tapi dua kali itu pula toko itu tutup.
Akhirnya, suatu sore, saya mampir lagi kesana. Wah. Buka!
Masuk ke toko, penjaganya Ibu-ibu paruh baya.
Menunggu pengunjung sambil nonton drama.
Lihat-lihat..coba-coba..
terpilihlah satu sepatu hitam model sederhana harga kaki lima..
wew,,,350ribu saja..inflasi tidak bekerja atau bagaimana???
semoga bisa menyamai prestasi sang sepatu lama..
6 tahun masa kerja!
Ikat Pinggang Juara
Saya bangga!
Saya bangga kalau berhasil membeli sesuatu dengan harga yang relatif murah..
Tapi penggunaannya bisa luar biasa maksimal.
Contohnya seperti sang sepatu lama..
katakanlah... 350 ribu.. katakanlah 5 tahun (1.800 hari)
350rb dibagi 1.800 hari = Rp194,- per hari!
What an achievement... :D
------------------------------
Tapi dalam hal ini, saya punya satu Juara..
Ikat Pinggang!
Saya pakai setiap hari..selama hampir 6 tahun..
Melekat disekitaran pusar..
Menghadapi berbagai cuaca dan iklim..
Kuliah? saya pakai..
Kerja? saya pakai..
Kondangan? saya pakai..
Jalan-jalan? saya pakai..
Ya gimana..Saya hanya punya 1 ikat pinggang saat itu.
Dialah sang Ikat Pinggang Juara, yang saya beli di Pasar Poncol, sebelah Stasiun Ps.Senen.
Akhir 2009 saya beli..dalam rangka magang tahun akhir kuliah..
Harganya? 15 ribu saja..
Mari berhitung..
katakanlah... 15 ribu.. katakanlah 6 tahun (2.160 hari)
15rb dibagi 2.160hari = Rp7,-, tujuh, ya, TUJUH PERAK per hari!
What a Legend.....
Sang juara pensiun, karena di akhir 2015 saya membeli ikat pinggang baru dalam rangka menghadapi Akad Nikah.
Jadi gimana? apakah saya Pelit?
15rb dibagi 2.160hari = Rp7,-, tujuh, ya, TUJUH PERAK per hari!
What a Legend.....
Sang juara pensiun, karena di akhir 2015 saya membeli ikat pinggang baru dalam rangka menghadapi Akad Nikah.
Jadi gimana? apakah saya Pelit?